“Gelar Sarjana Tidak Menjamin Etika”
Kali ini kita akan membicarakan tentang orang – orang yang berpendidikan yang tinggi dalam arti bersekolah tinggi tetapi belum tentu mencerminkan akhlak yang baik. Tulisan ini bertujuan untuk memahami apa hubungan antara pendidikan formal dengan etika, dan mengetahui ada banyak para sarjana yang tidak beretika
Berpendidikan dapat di artikan sebagai manusia yang telah berkembang kemampuan intelektualnya karena faktor pendidikan, (www.lontarmadura.com) dan pendidikan sendiri artinya usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dari proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang di perlukan dirinya dan masyarakat, (raflengerungan-wordpress.com).
Sedangkan berakhlak baik maksudnya disini adalah tingkah laku seseorang yang di dorong oleh suatu keinginan secara sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan yang baik, (wikipedia.org).
Dari beberapa penjelasan di atas, jika seseorang yang berpendidikan memiliki akhlak baik, maka seseorang tersebut dapat dikatakan sebagai manusia yang berkarakter baik, tetapi pada faktanya masih banyak seseorang yang belum sepenuhnya berakhlak walaupun memiliki pendidikan yang tinggi.
Saat ini, pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting. Sehingga semakin banyak orang berusaha untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, khususnya dalam pendidikan formal. Namun, sering kali kita temui orang yang berpendidikan formal tidak memiliki etika yang baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Menjadikan pendidikannya itu sebagai sesuatu yang harus di sombongkan, bahkan sebagai alat untuk merendahkan orang lain.
Hal itu menjadi pemicu terjadinya penyimpangan perilaku yang muncul di kalangan masyarakat seperti korupsi, kekerasan, tindak kriminal, kurangnya tenggang rasa dan tanggung jawab. Ini seringkali muncul di kalangan orang yang berpendidikan yaitu para pelajar, mahasiswa bahkan para sarjana. Seolah-olah mereka tidak mendapatkan pendidikan karakter saat kegiatan belajar mengajar.
Berbicara mengenai Pendidikan, Ki Hajar Dewantara yang merupakan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia menjelaskan: “Pendidikan itu merupakan tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntut segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Sedangkan menurut H. Home, ” pendidikan adalah proses yang terus menerus dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada Tuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.”
Dari beberapa pengertian pendidikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh pendidik kepada perkembangan peserta didik untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri, tidak dengan bantuan orang lain. dan dapat dipahami bahwa pendidikan dan etika memiliki hubungan yang erat didalam sebuah proses, berlangsung secara terus-menerus dalam kehidupan manusia melalui pengajaran dalam membangun serta membentuk etika yang baik.
sumber : https://uma.ac.id


