Perbedaan Antara Pneumonia dan Asma

Pneumonia merupakan suatu infeksi pada jaringan paru yaitu kantong udara (alveolus) paru. Pada pneumonia, terjadi pengumpulan cairan dan sel-sel mati di dalam kantong udara yang menyebabkan kantong udara menjadi padat.
Asma merupakan suatu reaksi alergi pada saluran napas akibat berbagai faktor lingkungan. Pada asma, terjadi reaksi berlebihan terhadap suatu hal yang sebenarnya tidak berbahaya, baik yang terdapat di dalam maupun di luar tubuh. Jadi asma merupakan suatu reaksi alergi yang menyebabkan penyumbatan hebat jalan napas, sehingga terjadi penurunan suplai oksigen ke dalam paru-paru dan seluruh tubuh.
Perbedaan Penyebab
Penyebab pneumonia adalah berbagai jenis virus, bakteri, atau jamur. Penularan biasanya terjadi melalui proses aspirasi, yaitu secara tidak sengaja menelan cairan penderita pneumonia. Orang yang mengalami kelumpuhan seringkali mengalami pneumonia.
Asma disebabkan oleh reaksi alergi terhadap berbagai hal seperti debu, bulu binatang, serbuk sari, udara dingin, cat, wewangian kuat, plastik, logam, kayu, dan sebagainya. Selain itu, beberapa jenis makanan juga dapat menyebabkan reaksi alergi, seperti tiram, susu, kacang, kerang, dan sebagainya. Selain reaksi alergi, berolahraga juga dapat menyebabkan terjadinya serangan asma pada beberapa orang.

Penyebab asma belum diketahui secara jelas, tetapi biasanya penyakit ini diturunkan dari orang tua ke anak-anaknya. Selain itu, keadaan lingkungan sekitar juga bisa menjadi faktor risikonya.

Asma erat kaitannya dengan alergi. Gejala asma sering muncul ketika pasien yang memiliki alergi terpapar dengan alergen atau zat pemicu alergi. Alergen bisa meliputi serbuk sari, tungau debu, udara dingin, polutan udara seperti asap, obat-obatan, dan makanan tertentu.

Selain itu, asma juga bisa dipicu oleh stres dan penyakit GERD, suatu kondisi berupa naiknya asam lambung ke tenggorokan.

Sedangkan, pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyebabkan peradangan dan pembengkakan pada kantung udara paru-paru atau alveolus. Pneumonia juga kerap disebut paru-paru basah.

Peradangan membuat kantung udara terisi dengan cairan atau nanah dan menimbulkan gejala seperti batuk, sesak napas, demam, dan kedinginan.

Banyak kuman yang dapat menjadi penyebab pneumonia, tapi yang paling umum adalah bakteri dan virus. Penularan pneumonia tergolong cepat, mengingat bakteri dan virus bisa keluar masuk dengan mudah ke dalam hidung dan mulut melalui udara

Perbedaan Gejala
Beberapa gejala pneumonia yang sering ditemukan adalah demam tinggi yang disertai dengan menggigil, batuk berdahak, dahak berwarna kuning, kadangkala disertai dengan batuk berdarah, nyeri dada, sesak napas, nyeri otot berat, hilangnya nafsu makan, dan mual.
Sebaliknya, serangan asma biasanya terjadi secara mendadak yang ditAndai dengan sesak napas berat, batuk, dan mengi (suara napas berbunyi “ngik-ngik”) yang merupakan ciri khas serangan asma.
Serangan asma biasanya lebih sering terjadi pada dini hari atau setelah terpapar oleh alergen seperti serbuk sari atau debu. Para penderita asma biasanya memiliki periode bebas gejala dan periode serangan asma, di mana ia merasa sesak napas atau kesulitan bernapas.
Perbedaan Pengobatan
Untuk mengatasi pneumonia, dokter biasanya akan memberikan antibiotika atau obat anti jamur dan obat penurun panas. Untuk mengatasi asma, penderita biasanya diberikan berbagai jenis obat-obatan yang bertujuan untuk membantu melebarkan jalan napas.

Biasanya, orang-orang yang berusia 65 tahun ke atas memiliki risiko sebanyak 5 kali lebih besar untuk tertular pneumonia. Ini karena seiring bertambahnya usia, sistem kekebalan tubuh Anda melemah, sehingga tubuh lebih sulit untuk melawan infeksi.

Mencegah penularan paru-paru basah

Bila Anda yang memiliki asma khawatir akan risiko penularan pneumonia, ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk mencegahnya.

Pertama, lindungi diri Anda dengan menjalani vaksinasi pneumokokus. Tak hanya orang dewasa di atas usia 65 tahun, vaksin ini juga disarankan untuk orang dewasa dengan rentang umur 19 – 64 tahun, terutama bagi yang merokok.

Bila Anda ingin mendapatkannya, jangan ragu untuk menanyakan tentang persediaan vaksin pada dokter spesialis.

Kedua, jagalah kebersihan diri dan lingkungan. Mengingat infeksi pernapasan seperti pilek dan flu bisa memicu kambuhnya gejala asma dan meningkatkan risiko pneumonia, mulailah lakukan kebiasaan seperti:

  • rajin mencuci tangan dengan sabun dan air, baik sebelum dan sesudah makan, setelah beraktivitas di kamar mandi, maupun setelah bepergian dengan kendaraan umum,
  • membersihkan permukaan yang paling sering tersentuh seperti kenop pintu, saklar lampu, dan gawai pribadi,
  • menjaga jarak dengan orang yang sedang sakit infeksi, dan
  • menjauhi area yang penuh dengan asap rokok.

Langkah selanjutnya, pastikan Anda selalu memantau kondisi Anda agar gejala asma tetap terkendali. Lakukan pemeriksaan rutin setiap 6 – 12 bulan sekali, hindari berbagai hal yang bisa memicu asma, dan rutin minum obat sesuai dengan anjuran dokter.

Jangan minum obat lebih dari yang diresepkan atau mengganti obat lain tanpa berkonsultasi dengan dokter. Terlalu banyak mengonsumsi obat asma dapat menyebabkan efek samping yang akan memperburuk kondisi Anda. Bila gejala memburuk, segera periksakan diri ke rumah sakit.

Jangan lupa untuk selalu makan makanan dengan gizi seimbang, melakukan aktivitas fisik secara rutin, dan beristirahat yang cukup. Dengan disiplin melakukan langkah pencegahan, niscaya Anda akan terhindar dari risiko penyakit.

Sumber :
  • https://www.uma.ac.id/
  • https://pemkomedan.go.id/artikel-12330-perbedaan-antara-pneumonia-dan-asma.html
  • https://hellosehat.com/pernapasan/asma/perbedaan-asma-dan-pneumonia/

Tinggalkan Balasan